Site Meter

Tulisan

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat

Transmigran Pun Bisa Menjadi Teladan

Program transmigrasi yang selama ini dipandang sebelah mata, justru menjadi pintu kesuksesan bagi sebagian orang. Bisnis yang berkembang di daerah ternyata mampu mendatangkan pendapatan hingga ratusan juta rupiah pertahun.

Kesuksesan inilah yang dirasakan para transmigran peraih penghargaan Transmigran Teladan dan Petugas Pembina Permukiman Transmigrasi Teladan Tingkat Nasional Tahun 2013. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar, Senin (19/8) di Jakarta.

Dalam keterangan pers yang dilansir Republika Online Menakertrans menyatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan upaya pemerintah dalam memberikan motivasi, perhatian dan penghargaan kepada para transmigran dan petugas pembina Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT). Penganugerahan tersebut dilaksanakan dalam kaitannya dengan rangkaian peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pemilihan transmigran dan UPT teladan tingkat nasional pada tahun 2013 ini diikuti 24 orang Transmigran Teladan dan 23 orang pembina UPT yang berasal dari seluruh Indonesia.

Untuk kategori Transmigran Teladan tahun 2013 juara pertama diraih oleh Wahyuddin transmigran yang bermukim di lokasi transmigrasi Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Mahalona SP.2 Desa Kalusi, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Berada di posisi kedua Asep Suganda yang bermukim di UPT Tobulamo, Kecamatan Kao barat, Kab. Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara. Dan juara ketiga diraih Tobi’i, transmigran asal Gedong Karya, Desa Jebus, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambiyang.

Dari ke-24 peserta tersebut terdapat 4 orang transmigran asal Jawa Barat yang turut menerima penghargaan sebagai Transmigran Teladan yaitu Suta transmigran asal Kab. Purwakarta, yang bermukim di UPT. Ulumanda, Kec. Ulumanda, Kab. Majene, Prov. Sulawesi Barat. Kemudian Asep Suganda yang berasal Kab. Karawang, dengan lokasi penempatan di UPT. Tobulamo, Kec. Kao Barat, Kab. Halmahera Utara, Prov. Maluku Utara. Ikhwan Dulkariem,asal Kab. Sukabumi, dengan lokasi penempatan di UPT. XVI Sukamaju, Kec. Mentabah, Kab. Kapuas Hulu, Prov. Kalimantan Barat. Dan Johansyah yang berasal dari Kab. Sukabumi, dan bermukim di UPT. X Bola Suburangun, Kec. Bula Barat, Kab. Seram Bagian Timur, Prov. Maluku.

Para peraih penghargaan ini merupakan transmigran yang ikut pemberangkatan tahun 2006, 2007 dan bahkan salah seorang diantaranya baru 2 tahun mengikuti program transmigrasi pada tahun 2011. Mereka mengaku betah di lokasi penempatan UPT. Bahkan ketika ditanya apakah ada keinginan untuk kembali ke Jabar mereka serempak mengatakan tidak. Seperti yang diungkapkan Ikhwan yang mendapat penghargaan transmigran teladan di aspek sosial budaya.

“Di sana selain punya usaha pertanian, saya juga mengajar,” ungkap Ikhwan saat ketiganya berkunjung ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat Agustus lalu . Mereka disambut oleh Kepala Dinas beserta pejabat struktural di lingkungan Disnakertrans Prov. Jabar. Bahkan Ikhwan saat ini sudah tercatat menjadi tenaga honorer yang masuk kategori II di kabupaten Kapuas Hulu.“Bukan karena tidak cinta dengan Jawa Barat, tapi kehidupan kami sudah dirintis disana,” sambung Ikhwan

Saat berdialog dengan para transmigran ini, Kadisnakertrans, Dr. Hening Widiatmoko, MA mengungkapkan kegembiraannya dan turut merasa bangga mengetahui ada wakil Jabar yang meraih penghargaan Transmigran Teladan. Ia menyatakan bahwa hal tersebut sejalan dengan program Jabar Mengembara yang digulirkan Gubernur Jabar. “Transmigrasi merupakan pilihan hidup. Keberhasilan mengembangkan usaha yang ada merupakan nilai plus. Apalagi dengan adanya penghargaan yang diterima ini merupakan jalan yang bisa dijadikan contoh bagi yang lain,” ujar Kadisnakertrans.

Sementara Drs. Irwan Suwandi, Sekretaris Disnakertrans Kab. Sukabumi menyampaikan bahwa dengan adanya wakil Jawa Barat yang menerima penghargaan berharap bisa menjadi pionir bagi warga Jabar lainnya, terutama ada dua wakil dari Sukabumi yang menjadi teladan.

Penghargaan Transmigran Teladan ini diberikan melalui proses seleksi dan penilaian yang ketat. Para transmigran yang dinilai teladan ini sebelumnya mengikuti seleksi baik di tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi.

Menurut Kepala Bidang Transmigrasi Prov. Jawa Barat H. Deni Munawar, SH, proses seleksi anugerah transmigran teladan kriterianya terdiri dari aspek sosial ekonomi dan aspek sosial budaya. Aspek sosial ekonomi bagi transmigran yang menjalankan usaha lahan pertanian atau perkebunan. Sementara untuk sosial budaya lebih berkaitan dengan pengabdian yang diberikan, misalnya tenaga pendidik.

Kriteria penilaian dalam ajang penghargaan ini meliputi,tingkat ekonomi (pendapatan, produktivitas dan penyerapan tenaga kerja), kesehatan, pendidikan, partisipasi dan mental spiritul serta peranan istri dalam kesejahteraan masyarakat. Sedangkan kriteria pembina UPT meliputi aspek moral, kompetensi, prestasi kerja serta pencapaian keberhasilan tugas pembinaan di lokasi transmigran.

Banyak yang beranggapan bahwa transmigrasi adalah program pemerintah yang “hanya” memindahkan warga dari satu tempat ke tempat lain guna mengurangi kepadatan penduduk diperkotaan. Padahal dengan menjadi transmigran seseorang bisa menjadi jutawan. Dari adanya penghargaan Transmigran Teladan ini diketahui bahwa penghasilan yang dimiliki setelah mengikuti program transmigrasi bisa mencapai ratusan juta setiap tahunnya. Jauh melebihi gaji pejabat pemerintah bahkan pengusaha di kota besar.

Lihat saja penghasilan dari para pemenang penghargaan ini masing-masing berkisar diatas 200 juta sampai 500 juta pertahun. Itu mereka dapatkan dari satu jenis usaha saja, tidak jarang seorang transmigran bisa memiliki lebih dari satu bidang usaha.

Namun tentu saja hal tersebut tidak didapat secara instan.Selain memiliki penghasilan yang fantastis setiap transmigrasi mempunyai kisah perjuangan masing-masing dalam merintis usahanya. Salah satu modal yang harus dimiliki calon transmigran adalah motivasi dan keberanian. Dengan modal tersebut para pengembara ini mampu mengubah nasib diri dan keluarganya menjadi pengusaha-pengusaha sukses di lokasi transmigrasi.

Keberhasilan program transmigrasi tergantung pada 3 (tiga) pokok utama yaitu, pertama, ketersediaan lahan yang memenuhi syarat clean dan clear serta 4L yaitu layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan. Kedua, tersedianya sarana dan prasarana pemukiman seperti fasilitas jalan, jembatan, pendidikan, kesehatan, fasilitas umum, sosial. Ketiga, tersedianya Sumber Daya Manusia yang bisa memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia. Dan sumber daya manusia inilah yang menjadi andalan yaitu transmigran yang terampil, ulet, gigih dan berjiwa pionir untuk meningkatkan kesejahteraannya. (**Indh.)