Site Meter

Tulisan

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat

Dari 15 Ribu Menjadi 340 Juta

“Kalau ditanya persiapan saya dulu apa, saya jawab modal nekat dan uang Rp. 15.000,- dikantong,” ujar Johansyah membuka percakapan.

Pria yang akrab dipanggil Johan ini merupakan salah satu penerima penghargaan Transmigran Teladan tahun 2013. Johan yang berasal dari Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat berangkat mengikuti program transmigrasi pada tahun 2007 dan ditempatkan di Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) XBola Suburangun, Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Provinsi Maluku.

“Sebenarnya saya menjadi transmigran karena ada salah seorang calon yang mengundurkan diri,” jelasnya.  Sebelumnya Johan bekerja di bidang usaha catering, merasa ingin merubah nasib ia mendaftar menjadi peserta calon transmigran. Ketika ada kesempatan ikut pemberangkatan tanpa berpikir dua kali ia langsung berangkat beserta istrinya.

Di lokasi penempatan Johan mendapatkan haknya sebagai transmigran yaitu rumah dan lahan untuk usaha. Awalnya ia diminta salah seorang tetangganya untuk membantu membawa sayuran hasil panen ke pasar. Dan hal inilah yang menjadi titik awal bisnis yang sampai saat ini ditekuninya yaitu penyuplai sayur dan buah.

“Dulu saya jalan kaki membawa hasil panen tetangga ke pasar yang jaraknya 38 km. Jalannya juga belum sebagus sekarang. Dulu saya harus lewat hutan dan lumpurnya itu mungkin sama seperti lumpur lapindo itu,” cerita Johan.

Harga sayuran dan buah di kabupaten ini tergolong mahal. Melihat peluang tersebut ia menanami pekarangan rumahnya dengan jagung manis. Hasilnya dia jual ke pasar sambil terus membawa hasil panen tetangga-tetangganya. Dari hasil yang diperoleh Johan belikan sapi untuk diternakan.

Selama tiga tahun menjadi distributor sayuran dan buah, pria yang menempuh pendidikan sampai PGA (setaraf SMA) ini berhasil menambah ternak sapinya menjadi 7 ekor. Bahkan saat ini Johan tidak hanya penyuplai sayuran ke pasar saja, konsumennya sudah mencapai perusahaan-perusahaan pertambangan yang beroperasi di Kabupaten SBT ini.

Selain sebagai suplier Johan juga membuka bisnis meubel bambu, pengadaan pestisida, insektisida serta keperluan pertanian lainnya. Dan beserta istrinya ia juga memulai bisnis kredit pakaian. Saat ini penghasilan yang diperoleh Johan mencapai 340 juta pertahun.

Usaha-usaha inilah yang akhirnya mengantarkan ayah beranak tiga ini ke ajang penghargaan Transmigran Teladan tingkat nasional tahun 2013. Meskipun bukan juara pertama tapi pengalaman yang diperolehnya selama proses seleksi memberikan pengetahuan baru. Pada tingkat kabupaten dan provinsi Johan meraih juara pertama sebagai Transmigran Teladan.

“Saya berharap kepada pemerintah bantuan yang diberikan pada para transmigran bisa dalam bentuk modal karena sebenarnya banyak yang ingin membuka usaha tapi tidak memiliki kemampuan di bidang modal,” pangkasnya. (**Indh.)